Nama saya Agung irmansyah saya
bersekolah di SMP Negri 1 Palimanan. Saya adalah siswa kelas 9A. Cerpen ini
akan menceritakaan tentang kejadian yang tidak kami lupakan sampai akhir waktu
Waktu itu saya, Riski, Falhum, Dwi,
Dan Zidan berniat jalan-jalan ke Taman sumber. Taman sumber adalah tempat
tongkrongan anak muda yang ga punya duit atau anak alay untuk ber selfie ria di dekat patung atlet lari
agar dianggap orang gaul karna sudah pernah ke kota.
Perjalanan dari daerah kami ke kota
sumber memakan waktu sekitar 30 menit. Sesampai nya sampai disana, Kami
berhenti di samping Taman sumber dan memarkirkan motor kami di tempat sejuk.
Lalu kami berlima mengadakan sumbangan untuk membeli Minuman dan batagor Di pedagang
kaki lima. Sial nya, Pada saat Kami membeli Minuman disana, kami dilayani orang
yang saya kira tidak waras. Saya bilang orang itu tidak waras karena setiap
kami berbicara pasti dia ikutan ngomong dengan jawaban seadanya. Saya berbicara
kepada Zidan
Saya:”Dan,
Kook Pita atlet nya ga jatuh-jatuh?” Dengan nada melawak.
Orang tidak
waras:”Pake Lem Super tuh!”
Padaa saat itu saya berharap Zidan
yang menjawab nya, Eh Malah orang yang tidak waras itu yang menjawab nya.
Perasaan saya tidak karuan antara Ingin ketawa dan Aneh. Kami berlima menahan
tawa yang amat dalam. Lalu orang yang tidak waras itu memakai Helm saya dan
saya berkata dalam hati “Bahaya nih ! Saya bisa ikut-ikutan gila seperti dia!”.
Pada saat itu saya hanya bias duduk
termenung karena takut ke gilaan itu menular kepada saya. Yang membuat kesal
nya adalah Orang itu memakai Helm saya cukup lama sekitar 20 detik dan orang
itu hanya cengar-cengir seperti orang yang bangun dari kesurupan. Teman-teman
saya Malah hanya tertawa dan tidak membantu saya untuk mengambil helm saya.
Sungguh 20 detik dalam hidupku yang terbuang sia-sia.
Selesai lah masalah dengan orang itu.
Kami pun bergegas pulang dengan Riski yang menyetir motor saya. Saya berbicara
kepada Riski.
Saya:”Ki,
Pake helm dong biar Tidak di tilang polisi!”
Riski:”Udah
lah tidak apa-apa, nanti kita bergantian menyetir motornya”
Saya:”Ya
sudah lah”
Lalu kami pulang kembali melewati
jalan yang kami telah lewati saat berangkat tadi. Sial nya, Ada Polisi kurus
kurang makan dari jauh Men-stop motor kami. Tetapi Dwi berhasil lolos karena
Memakai Helm.
Polisi:”Hei
!, Sini ke pinggir!”.
Riski:”Iya
pak!”. Sambil meminggirkan motor
Polisi:”Mana
helm mu ?”.
Riski:”Bentar
pak ! Saya pulang dulu ingin mengambil helm!”
Polisi itu langsung terdiam. Lalu
Riski Langsung tancap gas kabur dari polisi itu. Perasaan kami sangat tidak
karuan antara takut dan Bingung. Lalu Kami bergantian menyetir motor nya. Kami
mengambil Jalan memutar melewati Stadion Ranggajati. Saat kami pulang dan
bertemu polisi itu, Kami menyapa Polisi itu yang sedang makan siomay di
pedagang gerobak dekat pos polisi.
Lalu kami ingat bahwa Falhum dan
Zidan dua-dua nya tidak memakai Helm. Kami berpikir Mereka telah berangkat
langsung ke tempat bimbel nya. Lalu kami check
langsung kesana, Benar saja mereka ada disana. Lalu kami pulang dengan
membawa hati yang Bingung, takut, dan aneh.
-SELESAI-